Industri budidaya udang global terus berinovasi, dengan teknologi biofloc (BFT) menjadi solusi utama dalam akuakultur berkelanjutan. Sebuah ...

Optimasi Sumber Karbon dalam Sistem Biofloc untuk Budidaya Udang

Industri budidaya udang global terus berinovasi, dengan teknologi biofloc (BFT) menjadi solusi utama dalam akuakultur berkelanjutan. Sebuah studi terbaru meneliti dampak berbagai sumber karbon—molase, dekstrosa, dan dedak padi—terhadap kualitas air dan pertumbuhan udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada fase pembibitan (nursery) dan pembesaran (grow-out).


Sistem produksi Biofloc memungkinkan petambak membudidayakan udang dengan penggunaan pakan dan air yang minimal © Florida Organic Shrimp


Mengapa Teknologi Biofloc Penting?

Sistem biofloc menawarkan banyak manfaat, termasuk peningkatan kualitas air, pengurangan dampak lingkungan, serta peningkatan biosekuriti dengan meminimalkan risiko penyakit. Dengan menjaga lingkungan mikroba yang terkendali, BFT mengubah limbah menjadi protein mikroba yang bermanfaat, sehingga mengurangi kebutuhan pergantian air dan mendukung nutrisi udang.


Eksperimen pada Fase Nursery

Pada fase nursery, penelitian menguji penggunaan molase dan dedak padi sebagai sumber karbon utama. Fungsi utama sumber karbon ini adalah untuk mendukung pertumbuhan bakteri heterotrof yang membantu mengurangi amonia dalam sistem biofloc.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

  • Molase secara signifikan mengurangi kadar amonia pada fase nursery, dengan konsentrasi total ammonia nitrogen (TAN) rata-rata 0,73 ± 0,90 mg/L, dibandingkan dengan 1,76 ± 2,10 mg/L pada perlakuan dedak padi.

  • Parameter kualitas air lainnya, seperti suhu (26–27°C), oksigen terlarut (>5,7 mg/L), dan pH (7,7–7,9) tetap dalam batas optimal.

  • Tingkat kelangsungan hidup udang sangat tinggi (97,4–99,5%), menunjukkan bahwa sistem biofloc dengan molase atau dedak padi mendukung pertumbuhan postlarva dengan baik.

Eksperimen pada Fase Grow-Out

Pada fase grow-out, penelitian menguji penggunaan dekstrosa dan dedak padi sebagai sumber karbon utama. Fokus utama dalam fase ini adalah efisiensi pertumbuhan udang dan pengelolaan kualitas air untuk mendukung kepadatan tebar tinggi.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

  • Dekstrosa lebih efektif dalam mengendalikan amonia, dengan TAN rata-rata 0,82 ± 0,33 mg/L, dibandingkan dengan 1,19 ± 0,33 mg/L pada perlakuan dedak padi.

  • Dedak padi menghasilkan pertumbuhan udang yang lebih baik, dengan bobot akhir 8,45 ± 1,84 g, dibandingkan dengan 7,19 ± 1,63 g pada perlakuan dekstrosa.

  • Rasio konversi pakan nyata (AFCR) lebih baik pada perlakuan dedak padi (2,03 ± 0,51) dibandingkan dengan dekstrosa (3,25 ± 0,63), menunjukkan efisiensi pakan yang lebih tinggi.

  • Tingkat kelangsungan hidup pada fase ini tetap tinggi (82,7–88,2%), menegaskan bahwa sistem biofloc dapat mendukung pertumbuhan udang hingga ukuran konsumsi.

Panduan Praktis bagi Petambak Udang

  1. Pemilihan sumber karbon yang tepat:
    • Pada fase nursery, molase dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk mengontrol amonia.
    • Pada fase grow-out, dekstrosa lebih efektif dalam mengontrol amonia, tetapi dedak padi menunjukkan hasil lebih baik dalam pertumbuhan udang dan efisiensi pakan.

  2. Menyeimbangkan aktivitas mikroba:
    • Pada fase awal, rasio C/N 15:1 digunakan untuk memulai sistem biofloc.
    • Setelah TAN mencapai 1,0 mg/L, rasio disesuaikan menjadi 6:1 untuk mendukung stabilitas biofloc.

  3. Pemantauan dan penyesuaian: Pemeriksaan kualitas air secara rutin dan penyesuaian biofloc sangat penting untuk menjaga sistem yang stabil dan produktif.


Dengan memanfaatkan sumber karbon secara strategis, petambak udang dapat meningkatkan efisiensi produksi sambil mempertahankan praktik yang ramah lingkungan. Seiring berkembangnya teknologi biofloc, optimalisasi input seperti karbon organik akan menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi penuh budidaya udang intensif.



Artikel ini adalah versi ringkas yang disusun oleh tim editorial Kajian Perikanan berdasarkan artikel asli berjudul "Use of Different Carbon Sources for the Biofloc System Adopted During the Nursery and Grow-Out Culture of Litopenaeus vannamei" karya Fabiane P. Serra, Carlos A. P. Gaona, Plínio S. Furtado, Luis H. Poersch, dan Wilson Wasielesky Jr. dari Federal University of Rio Grande, Brasil. Artikel lengkap diterbitkan pada 2015 di Aquaculture International dan dapat diakses melalui DOI: 10.1007/s10499-015-9887-6.


Anda dapat mengunduh artikel tersebut pada link berikut [unduh].

0 comments: